Belajar dari Alan
Adikku yang bernama Muhammad Rafli Maulana sore ini sedang bermain bersama kawannya bernama Alan. Sudah seminggu Rafli main dengan Alan. Sebenarnya aku sudah tahu beberapa kawan-kawan kecilnya yang lain. Tapi baru kali ini aku lihat seorang anak kecil yang entah kenapa aku melihat dia berbeda dari yang lain.
Tidak seperti teman-teman adikku yang lainnya, Alan sama sekali tidak pernah menyuruh adikku untuk jajan ( alias nge-bos-in). anaknya sangat santun, tutur katanya lembut, tingkah lakunya sopan. Tidak hanya itu saja ia juga rajin ke masjid dekat rumah untuk sholat magrib dan isya. Alan memang beda 3 tahun dari Rafli, tapi ia memang memiliki tingkat kedewasaan yang lebih dibanding dengan anak seusianya.
Berbersit di hatiku untuk mengetahui lebih dalam apa gerangan siapa dan bagaimana sosok orang tua nya yang bisa mendidik anak sebaik itu.
Ku temukan jawabannya dalam uraian singkat berikut ini.
Alan baru saja pindah ke Jakarta dari tegal saat ia duduk di bangku sekolah saat akan naik kelas ke kelas 4. Akan tetapi karena ia anak pindahan ia tetap di kelas 3. ia tinggal di kontrakan depan rumah ku. Ayahnya bekerja sebagai supir taksi pengganti dan ibunya sebagai pembantu di komplek rumahku. Alan sekolah di SD Negeri 9 kampung sawah dari jam 12 siang sampai jam 5, di sekolah itu sama sekali tidak ada tarikan biaya SPP. dia tidak bisa ikut TPA di masjid dekat rumah lantaran biaya dan waktunya.
Hidup sederhana yang diajarkan kedua orang tuanya menjadi landasan utama prilakunya. Dia sama sekali tidak enggan dan tidak malu menceritakan siapa orang tuanya. Yang dia tahu orang tuanya sayang kepadanya. Kehidupan Jakarta yang sangat berat menjadikan hidup keluarganya dirundung kemiskinan. Orang tua harus bekerja keras.
Rasanya aku malu akan diriku sendiri yang tidak pernah mensyukuri apa yang Allah berikan kepadaku. Uang , kebahagiaan, kebebasan, teman yang baik, orang-orang yang menyayangiku… aku punya semuanya… Meskipun saat ini ekonomi keluargaku sedang hancur tapi nampaknya keluarga Alan justru dalam keadaan yang lebih sulit dari pada kehidupanku. aku tidak perlu berfikir keras makan apa esok hari, sedangkan keluarganya??? Aku tidak perlu berfikir keras bagaimana biaya kontrakan, listrik, dan semua kebutuhan sehari-harinya aku penuhi… sedangkan keluarganya???
Sepertinya yang perlu aku lakukan adalah bersyukur atas apa yang Allah telah berikan kepadaku. ..
Ya Allah Yang Maha Pemberi Nikmat, syukurku atas nikmat yang telah Engkau berikan. Berikanlah aku kesempatan serta jalan untuk bisa memberikan kebajikan atas orang-orang orang yang dirundung kesedihan, kemalangan, kesempitan, dan kesulitan. Teguhkanlah Imanku, Islamku, agar segala apa yang ku lakukan merupakan jalan dari PetunjukMu dan ridhoilah aku Ya Rabb…

